14 April 2008, Allah telah menutupi aibku di KRL Express
Posted by diannugraha87 on 16th April 2008
Sore itu, tepat jam 17.30 aku sudah membeli tiket KRL ekonomi di stasiun kota, ya, sepulang dari Glodok, aku memilih naik kereta ketimbang naik busway, pertimbangannya selain waktu tempuh yang lebih cepat (cuma 50 menit), lebih ekonomis, aku pun nggak takut lagi kecopetan seperti tempo lalu karena memang uangku sudah habis dipake beli alat dan bahan buat praktikum besok. Di sakuku tersisa uang Rp 54.800, aku ingin cepat pulang karena memang sudah kemalaman, dan aku ingat sudah janji sama teman untuk menulis blog’s tentang dual booting laptop vaio.
Setelah dapet tiket ekonomi (Rp 1.500 red), aku segera bergegas menuju jalur 11 yang memang jalur kereta yang menuju ke depok. Dari pengeras suara, dengan jelas aku dengar “Kepada penumpang yang akan menuju depok diharapkan segera memasuki kereta..”. tanpa pikir panjang aku pun segera memasuki kereta, walaupun merasa sedikit janggal, perasaan kereta ini lebih bersih dan masih baru, walaupun penumpangnya berjejal-jejal, sama seperti kereta ekonomi, hehe.. Belum sempat berpikir lebih jauh, kereta sudah jalan, gujezz..gujezz..gujezz.. saat itu aku berada di gerbong paling belakang, di dekat jendela, dengan jelas disitu ada tulisan “Dengan membeli tiket, berarti anda telah memelihara kereta ini”, tersentak, baru aku sadar kalo yang aku naiki ini KRL Express depok, yang tiketnya Rp 10.000, aku juga inget, beberapa teman yang ‘nakal’ sempat ketauan nggak punya tiket dan kena denda 5 kali harga tiket, haha.. kebayang dong kalkulasi-kalkulasi yang aku lakukan saat itu? Kalo aku ketauan nggak punya tiket, berarti denda yang harus aku bayar itu Rp 50.000, sisa uangku cuma tiga ribu, nyampe kostan, selesai deh, aku mesti minjem uang buat makan sama buat OL, karena uang alat dan bahan baru diganti besok pagi di MGI, hehehe..
Menit-menit pertama perjalanan, aku merasa sangat tersiksa, hatiku dag-dig-dug nggak karuan, selalu kebayang tiba-tiba rombongan security memeriksa tiket (biasanya 3 orang, dengan pakaian serba biru), nggak kebayang, entah apa yang mesti aku katakan, lucu juga, saat itu aku mulai panik, gimana nih.. pasti malu banget deh kalau ketauan, diliat penumpang lain, duuhh malunya nggak kebayang, duduull, duduull, kenapa tadi nggak beli tiket yang express aja.. ada kali sepertiga perjalanan aku panik seperti ini, hingga akhirnya aku lelah sendiri dan mulai menyerahkan segalanya sama Allah, apapun yang terjadi, akan aku anggap sebagai pengalaman yang indah, bahwa kecerobohan sedikit saja harus dibayar dengan mahal, nggak ada satu cobaan pun yang tidak mengandung hikmah dibelakangnya.
Karena aku udah baca buku quantum ikhlas, aku coba bikin perasaanku enak (positif feeling) dengan membisikkan kata-kata yang bikin aku tenang, aku bilang “Ya Allah, aku tau aku ceroboh, tapi ini bukan disengaja, jika memang ini petunjuk darimu, bukalah hatiku untuk menerimanya, jika memang aku harus bayar denda, jadikanlah pengalaman ini sebagai awal agar aku tak ceroboh lagi, tapi engkau maha mendengar ya Allah, alangkah indahnya ya Allah jika tidak ada pemeriksaan tiket, jika aku tiba di stasiun depok sebelum jam setengah tujuh, dan tiba di kosan dengan selamat tak kurang suatu apapun, atau seenggak-enggaknya petugasnya baik dan aku cuma bayar tiketnya aja, hahaha..” kata-kata itu terus aku bisikkan sampai aku merasa tenang, dan ikhlas meski harus bayar denda 5 kali lipat. Aku juga mulai menyusun strategi biar nggak malu sama penumpang lain, caranya, ketika ada pemeriksaan tiket, sambil menakupkan tangan di kedua dadaku, sambil tersenyum, aku akan memberikan tiket ekonomi yang 1500 itu plus uang denda yang 50.000 sama petugas tanpa ngomong apa-apa, mudah-mudahan petugasnya ngerti aku salah naik kereta dan masalahnya nggak panjang, hehehe.. mimpi kali ye..
Beberapa saat kemudian kereta tiba di stasiun pondok pinang, banyak juga penumpang yang turun, sempat aku berpikir apa mending turun disitu saja, mumpung belum ada pemeriksaan? Tapi ada sesuatu yang menahanku, entah apa itu, tapi yang jelas dia berbisik ke hatiku untuk tetap tinggal, kecerobohan ini harus terbayar, aku harus berani menanggung semua akibat kecerobohanku, apapun itu, pasti ada hikmah yang aku dapat.
Kereta mulai melanjutkan perjalanan, dan selang beberapa lama tiba di stasiun pasar minggu, di sini pun banyak yang turun, mungkin hampir separuhnya, karena di sini aku mulai dapat tempat duduk. Yang aku herankan kenapa nggak ada pemeriksaan tiket? Aku sendiri mulai GR, apa doaku terkabul? Haha.. karena pemberhentian selanjutnya adalah stasiun depok, tempat pemberhentian terakhir. Tapi aku ingat, aku bisa selamat disini, tapi gimana caranya aku keluar stasiun? Apa mesti nunggu dulu KRL ekonomi dan pura-pura keluar bareng sama penumpangnya sambil memberikan tiket yang ekonomi? Ahh pusing.. kenapa jadi penuh kebohongan sih, perjalanan ini..
Seperti dugaanku, hingga stasiun depok, nggak ada pemeriksaan tiket, aneh, setauku, setiap kali naik KRL express (kalo lagi punya duit, hehehe) selalu ada pemeriksaan tiket, apa karena penumpangnya berjejalan, hingga petugasnya males harus berdesak-desakan checking tiket? Huzz.. jangan suudzon, barangkali aja Allah menolong kamu agar kamu nggak malu, sudah untung nggak ada pemeriksaan, malah protes pengen diperiksa, hahaha.. manusiawi kali ya.. yups, beberapa saat kemudian kereta mulai melambat dan berhenti tepat di stasiun depok. Sengaja aku tunggu semua orang keluar, sebagai tersangka utama aku nggak mau turun duluan, aku ingin pulang dalam keadaan bebas dari segala tuduhan, hahaha.. saat itulah ku lihat salah satu kru kereta mendekat, sesaat sebelum aku beranjak dari tempat duduk, dia menghampiriku, aku mulai merasa nggak karuan, terus dia bilang, “Maaf pak, tiket bapak jatuh, tuh di samping sepatu bapak..”
Aku ulang ya, petugas itu bilang “Maaf pak, tiket bapak jatuh, tuh disamping sepatu bapak..” jelas aku kaget, seingatku tiket KRL ekonomi punyaku masih ada di saku celana, tapi memang benar, tepat disamping sepatuku ada sebuah tiket yang terlipat. Karena nggak ada lagi penumpang selain aku, aku ambil tiket itu dan keluar dari kereta, aku nggak mau terlihat bego di depan petugas itu. Saat itu juga dengan tangan gemetar kubaca tiket itu, Subhanallah, maha suci Allah, benar, tiket itu tiket Depok Ekspress AC untuk hari ini, tanggal 14 April 2008, jurusan Juanda-Depok dengan nomor E0 7936, sejenak aku diam, mencoba meresapi apa yang sebenarnya terjadi, apa ini cuma kebetulan atau kali ini Allah telah menutupi aibku ?
Benar-benar pengalaman yang indah, dan nggak akan kulupakan, tiketnya sendiri masih ada padaku dan akan aku simpan sebagai kenang-kenangan. Di dompetku sekarang ada dua tiket kereta tanggal 14 April 2008, satu tiket ekonomi, satunya lagi tiket Express, pengennya sih aku laminating dan kusimpan di dompet aku, sehingga setiap kali aku lihat tiket itu, ingat pula aku akan kejadian hari ini, benar-benar pengalaman berharga yang harus aku ceritakan sama teman-teman yang lain. Ada yang mau komentar? Ditunggu ya, insya Allah aku nggak bohong, semua ini benar-benar aku alami, hehehehe…
(ditulis di MGI, 16 April 2008, sambil menunggu datangnya inspirasi)
Posted in Uncategorized | 8 Comments »