CANGKIR KERAMIK DAN KULI BANGUNAN
Di sebuah galeri seni terbesar di Jakarta, diantara guci-guci berharga, di dalam etalase kaca, terdapatlah sebuah cangkir keramik karya perajin terkenal saat itu, cangkir itu teramat cantik hingga siapa saja yang melihatnya akan berdecak kagum dan ingin memilikinya.. Ya, cangkir itu memang primadona bagi para kolektor seni, penuh dengan cita rasa seni yang tinggi, begitu cantik, begitu memukau, sayang.. harganya pun selangit, barangkali hanya segelintir orang saja yang mampu memilikinya.
Suatu saat seorang gadis cantik terpana akan keindahan cangkir itu, Ia berjalan mendekati etalase kaca sambil berkata “Subhanallah, teramat cantik cangkir ini, seumur hidup, inilah cangkir terbaik yang pernah aku lihat.. “ Saat si gadis menyentuh etalase kaca, tiba-tiba cangkir itu berbicara…. “ terimakasih atas perhatiannya wahai gadis cantik.. tapi perlu kamu ketahui bahwa sebelumnya aku tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanya seonggok tanah liat tak berguna di pinggir sungai, bercampur dengan kotoran dan lumpur.. kemudian suatu hari seorang perajin bertangan kotor, berbadan besar dan menyeramkan mengambilku dari pinggir sungai. Dan melemparkan aku pada sebuah roda yang berputar.
Kemudian dia memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. STOP!.. STOP! BERHENTI! Aku berteriak, tapi orang itu berkata “Belum..” lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. STOP! STOP! Teriakku lagi. Tapi orang itu masih saja meninjuku, tanpa ampun, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih parah lagi, dia memasukkan aku ke dalam perapian. PANAS! PANAS! Teriakku dengan keras, STOP! AMPUN! Apa salahku padamu? Teriakku geram. STOP! CUKUP! Teriakku lagi. Tetapi orang itu berkata “BELUM..”
Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian dan membiarkanku hingga dingin. Kupikir penderitaanku akan berakhir. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan Ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan, STOP! STOP! Aku berteriak. Tapi wanita itu nggak peduli, dia malah berkata “BELUM!”.
Lalu Ia memberikan aku pada seorang pria kasar, pria yang sangat kubenci, PERAJIN ITU! Ia memasukkan aku ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya. TOLONG! HENTIKAN PENYIKSAAN INI! APA DOSAKU PADA KALIAN? AMPUN! CUKUP! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi mereka nggak perduli dengan teriakanku “DASAR BIADAB”. Ia terus membakarku berpuluh-puluh jam lamanya. Hingga akhirnya dia mengangkatku dan membiarkanku dingin.
Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku di etalase kaca ini, diantara guci-guci cantik. Di kaca ini aku melihat diriku dan aku terkejut dibuatnya. Aku hampir tak percaya karena aku berubah menjadi sebuah cangkir yang begitu indah.. hilang sudah semua dendamku pada perajin itu, ingin aku mencium tangannya yang telah menjadikanku cantik seperti sekarang…
Renungan : ketika ditimpa masalah seringkali kita merasa Allah keterlaluan, seringkali kita putus asa, seringkali kita merajuk, entah berapa kali kita mengumpat ketika ditimpa cobaan, entah berapa kali kita marah, merasa tersakiti, merasa paling sengsara di dunia ini. Sahabat.. cerita di atas menggambarkan bahwa sesungguhnya ketika kita ditimpa cobaan, selalu tersimpan hikmah dan anugrah yang luar biasa di kesudahannya. Itulah cara Allah membentuk kita menjadi cantik, menjadi lebih bijak dan lebih berbudi..
CERITA KULI BANGUNAN
Di sebuah gedung yang sedang dibangun, seorang tukang yang sedang memasang jendela di lantai 5 memanggil kawannya yang ada di bawah. Ia berteriak sekuat tenaga “WOOIIII…. AMIR, TOLONG AMBILKAN PAKU BETON DONG…!” sayangnya si Amir tidak mendengar karena hiruk pikuk ibukota mengalahkan teriakan sang kawan. Tiga kali sudah tukang itu berteriak dengan keras hingga suaranya serak sampai akhirnya ia menemukan ide yang lebih cemerlang. Dikeluarkannya potongan kayu kecil dari saku bajunya kemudian dilemparkannya ke arah si Amir dan tepat mengenai kepalanya. “ADUH.. SAKIT NIH.. “ Ujar si Amir sambil melihat ke atas, di atas temannya tersenyum dan mengulang permintaannya. “Tolong ambilkan paku beton dong..” ujarnya. Akhirnya komunikasi pun berjalan dengan baik.
Renungan : Seringkali kita berpaling dan tidak mendengar ketika seruan Allah memanggil kita. Sama seperti si tukang, barangkali karena kita nggak pernah mendengar seruannya, Ia menimpuk kepala kita dengan sedikit ujian agar kita kembali padanya..
Sahabat, Terimakasih udah mau baca.
Best Regards,
diannugraha87@gmail.com
November 3rd, 2008 at 6:59 am
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..iya bnar juga,,makanya sebagai shabat mari kita “SALING MENGINGATKAN DAN MENASEHATI ” TONG isin2 nyak negur na..Syukran tman